Menjadi Wartawan tidaklah mudah,tantangan dan rintangannya sangat berat,hingga nyawa sebagai taruhannya

 

Tidak semua orang memiliki kemampuan menjadi seorang wartawan, tidak semua orang pula memiliki kesempatan menjadi seorang wartawan. Karena Menjadi wartawan tidaklah mudah, dibutuhkan kepiawaian yang tidak semua orang mampu melakukannya, seperti butuh kejelian dalam menggali informasi melalui narasumber, kejujuran dalam menyampaikan sebuah berita yang telah diperoleh dari narasumber, mampu menyampaikan berita dengan jelas dan tegas kepada masyarakat umum, dan masih banyak yang harus dilakukan dalam diri seorang wartawan.

 


Pekerjaan sebagai seorang wartawan tidaklah mudah, selain membutuhkan jiwa keberanian yang tinggi, menjadi seorang wartawan juga butuh komitmen yang baik dan passion untuk menyalurkan berita yang akurat.

 

Seorang wartawan sering kali dihadapkan dengan persoalan yang cukup rumit, seperti contohnya berhadapan dengan pemimpin redaksi yang terkadang kemauannya tidak sesuai dengan yang kita telah dapatkan dilapangan. Namun, seorang wartawan harus tetap menjaga kode etiknya dan berpegang teguh kepada integritas.

 


Menurut Hermien Y. Keleden tentang integritas, yaitu "saat apa yang kita dapatkan sudah sesuai dengan fakta ya tidak apa-apa, tetap sampaikan, ada dewan pers untuk merevisi kembali. Saat media kita memberitakan suatu kesalahan, kita bisa bergerak dengan dewan pers. Saat dihadapkan pada idealisme pilihannya pergi atau berjuang tapi membuat sebuah cerita. Tetap memegang Idealisme, tapi pesannya jangan jadi heroes di lapangan."

 

 

 

Setiap pekerjaan pasti memiliki resiko didalamnya tanpa terkecuali, baik itu resiko yang ringan maupun resiko yang berat. Berikut merupakan resiko yang mungkin didapatkan dalam dunia jurnalistik:

 

1.Pekerjaan yang kental dengan resiko kematian, Ketika melakukan tugas liputan di lapangan yang sedang terjadi kerusuhan atau bencana alam, seorang wartawan harus siap menghadapi hal-hal yang tidak terduka, termasuk kematian. Bukan hanya tentara saja yang rela mati demi bangsa dan negara, wartawan juga harus rela mati demi berita. Oleh karena itu, jika ada wartawan yang takut mati karena sedang mencari suatu informasi atau berita di lapangan, tandanya ia tidak sungguh-sungguh menjadi wartawan.

 

2.Bekerja dalam industri yang bersifat menuntut, Bekerja menjadi jurnalistik tidaklah sama dengan seorang pegawai kantor dengan jam kerja yang pasti. Sebagai seorang jurnalistik dituntun untuk selalu siap dan siaga.

 

Kapanpun, dimanapun, apapun yang sedang kamu lakukan, dan bagaimana perasaanmu itu harus dilakukan demi mendapatkan berita yang ekslusif dari tempat kejadian secara langsung. Sifat menuntut ini mengharusnya jurnalis dalam perihal waktu, kecepatan, ketepatan, dan tentunya tenaga.

 

3.Harus siap mempunyai banyak musuh, Pekerjaan wartawan adalah memberitakan, maka tentunya bukan hanya berita yang baik-baik saja, melainkan ada berita yang tidak enak atau berita buruk. Hal tersebut dapat memicu adanya pro kontra dari berbagai macam pihak yang membaca ataupun mendengarkan berita yang disampaikan. Dari hal tersebut banyak yang merasa tidak setuju dengan apa yang ditulis dan diberitakan oleh seorang jurnalis.

 

Dimata orang lain mungkin wartawan hanyalah sekedar profesi yang dalam kesehariannya memegang kertas dan pulpen untuk mencatat jawaban demi jawaban dari narasumber yang merupakan buah hasil dari pertanyaan yang dilontarkannya kepada narasumber.

 

Tetapi dibalik itu semua banyak orang yang tidak mengetahui sisi lain dari profesi seorang wartawan.. Kebanyakan dari mereka tidak tahu Bahwa terdapat resiko besar yang harus diterima seorang wartawan, ya memang setiap pekerjaan mempunyai resiko nya tersendiri.

 

 

 

 

0 Komentar